Bacalah cerita ini saat sedang santai supaya khusyu',duduklah,letakkan kopi/teh beserta cemilannya disamping anda.sudah siap? Jika ya,baca cerita ini secara perlahan.jika PUNYA,lebih asik sih bacanya bareng pacar.biar lebih romantis gitu.okelah,langsung aja.cekitdot!
Kisah pendakian gunung berikut ini semoga
bisa menjadi inspirasi bagi para pendaki
dan penggiat alam bebas dimanapun
berada. Bahwa tidak ada hal yang mustahil
yang bisa kita lakukan selama hal tersebut
adalah nyata dan sebanding dengan kemampuan kita. Intinya, jangan menyerah
terhadap satu hal yang terkadang
membuat kita lemah. Pasti bisa! - Masa kecil lelaki ini pernah terserang penyakit asma. Bahkan sejenis penyakit yang menyerang jaringan otak pernah
dialaminya. Hingga suatu saat perkenalan
dirinya dengan kegiatan alam bebas
seperti mendaki gunung merubah
segalanya. Sejak itu semua penyakitnya
hilang sama sekali dan dirinyapun nyaris tidak pernah meminum obat - obatan kimia
seperti obat sakit kepala, flu dan lain - lain
yang biasa di jual bebas. Apa yang di
dapatnya dari alam telah menjadi obat bagi
dirinya. Hingga kini ia pun masih aktif
melakukan pendakian.
- Seorang wanita berpenyakit asma dikucilkan dan dianggap lemah oleh
lingkungannya. Namun, suatu saat kakak
saya mendampinginya mendaki gunung
bersama - sama. Tekad serta kekuatan
yang ada pada dirinya membawanya
hingga ke Puncak Gunung Ciremai. Begitu tiba kembali di bawah, orang tuanya
seakan hampir tidak percaya kalau
putrinya bisa mendaki gunung. Ibunya pun
menangis. Kini lingkungannya tidak lagi
meremehkan dirinya. Ia pun tumbuh
menjadi seorang wanita yang lebih percaya diri. - Lelaki berusia lebih 40 tahun ini mempunyai kelainan pada klep jantungnya.
Tekadnya untuk mendaki Gunung Rinjani tidak terhalangi oleh penyakitnya ini. Ia
yakin dengan apa yang ada pada dirinya.
Kami mendaki bersama - sama sesuai
dengan kemampuan kondisi fisik yang ada.
Perlahan namun pasti kami terus mendaki menambah ketinggian. Saat harus bangun dinihari untuk
melanjutkan pendakian menuju Puncak Rinjani pun tetap dijalaninya. Selangkah demi selangkah ia terus mendaki. Walaupun
sebentar - sebentar harus berhenti. Hanya
sebuah kata - kata penyemangat yang
selalu mengiringinya “ayo bang...Insya
Allah abang pasti bisa...yang penting
sesuaikan dengan kemampuan abang...kami yang akan ikutin langkah abang”. Hingga saat tiba di gigiran kawah Gunung Rinjani, dimana dirinya bisa dikatakan sudah tidak jauh lagi untuk menggapai
puncak, tiba - tiba ada teriakan meminta
pertolongan dari atas. Seorang anak
perempuan terkena Hipotermia. Dengan legowo ia mengatakan, agar saya lebih
dulu menolong anak itu. Sedangkan ia rela
untuk menunda dirinya untuk ke puncak.
Saat saya tinggalkan ia ditemani seorang
teman yang sudah turun dari puncak. Alhamdulillah semuanya berjalan baik. Wanita yang hipotermia dapat tertolong. Demikian pula abang dapat kembali turun
ke pelawangan di dampingi teman - teman yang lain. Perlengkapan oksigen yang kami
bawa hanya terpakai sebagian. Paling tidak
ini menjadi persiapan kami untuk
menghadapi kondisi yang mungkin buruk
dan alhamdulillah tidak sampai terjadi. - Mendaki gunung menggapai tujuh puncak Merbabu bersama beberapa wanita, dimana sebagian besar sudah berusia di atas 35
tahun dan bahkan ada yang berusia 40 - 50
tahun merupakan pengalaman lainnya. Ada
yang baru pertama kali mendaki gunung.
Diantara mereka ada yang kondisi fisiknya
bekas mengalami kecelakaan yang cukup berat. Dimana hingga kini bekas kecelakaan
tersebut masih membekas pada dirinya.
“apakah saya sanggup bang?”, begitu
tanyanya. Saya hanya menjawab Insya
Allah. Alhamdulillah ia pun sanggup
menjalaninya dan hingga kini masih terus mendaki gunung. Demikian pula dengan yang lain. Mereka masih terus mendaki gunung.
Kisah pendakian gunung berikut ini semoga
bisa menjadi inspirasi bagi para pendaki
dan penggiat alam bebas dimanapun
berada. Bahwa tidak ada hal yang mustahil
yang bisa kita lakukan selama hal tersebut
adalah nyata dan sebanding dengan kemampuan kita. Intinya, jangan menyerah
terhadap satu hal yang terkadang
membuat kita lemah. Pasti bisa! - Masa kecil lelaki ini pernah terserang penyakit asma. Bahkan sejenis penyakit yang menyerang jaringan otak pernah
dialaminya. Hingga suatu saat perkenalan
dirinya dengan kegiatan alam bebas
seperti mendaki gunung merubah
segalanya. Sejak itu semua penyakitnya
hilang sama sekali dan dirinyapun nyaris tidak pernah meminum obat - obatan kimia
seperti obat sakit kepala, flu dan lain - lain
yang biasa di jual bebas. Apa yang di
dapatnya dari alam telah menjadi obat bagi
dirinya. Hingga kini ia pun masih aktif
melakukan pendakian.
- Seorang wanita berpenyakit asma dikucilkan dan dianggap lemah oleh
lingkungannya. Namun, suatu saat kakak
saya mendampinginya mendaki gunung
bersama - sama. Tekad serta kekuatan
yang ada pada dirinya membawanya
hingga ke Puncak Gunung Ciremai. Begitu tiba kembali di bawah, orang tuanya
seakan hampir tidak percaya kalau
putrinya bisa mendaki gunung. Ibunya pun
menangis. Kini lingkungannya tidak lagi
meremehkan dirinya. Ia pun tumbuh
menjadi seorang wanita yang lebih percaya diri. - Lelaki berusia lebih 40 tahun ini mempunyai kelainan pada klep jantungnya.
Tekadnya untuk mendaki Gunung Rinjani tidak terhalangi oleh penyakitnya ini. Ia
yakin dengan apa yang ada pada dirinya.
Kami mendaki bersama - sama sesuai
dengan kemampuan kondisi fisik yang ada.
Perlahan namun pasti kami terus mendaki menambah ketinggian. Saat harus bangun dinihari untuk
melanjutkan pendakian menuju Puncak Rinjani pun tetap dijalaninya. Selangkah demi selangkah ia terus mendaki. Walaupun
sebentar - sebentar harus berhenti. Hanya
sebuah kata - kata penyemangat yang
selalu mengiringinya “ayo bang...Insya
Allah abang pasti bisa...yang penting
sesuaikan dengan kemampuan abang...kami yang akan ikutin langkah abang”. Hingga saat tiba di gigiran kawah Gunung Rinjani, dimana dirinya bisa dikatakan sudah tidak jauh lagi untuk menggapai
puncak, tiba - tiba ada teriakan meminta
pertolongan dari atas. Seorang anak
perempuan terkena Hipotermia. Dengan legowo ia mengatakan, agar saya lebih
dulu menolong anak itu. Sedangkan ia rela
untuk menunda dirinya untuk ke puncak.
Saat saya tinggalkan ia ditemani seorang
teman yang sudah turun dari puncak. Alhamdulillah semuanya berjalan baik. Wanita yang hipotermia dapat tertolong. Demikian pula abang dapat kembali turun
ke pelawangan di dampingi teman - teman yang lain. Perlengkapan oksigen yang kami
bawa hanya terpakai sebagian. Paling tidak
ini menjadi persiapan kami untuk
menghadapi kondisi yang mungkin buruk
dan alhamdulillah tidak sampai terjadi. - Mendaki gunung menggapai tujuh puncak Merbabu bersama beberapa wanita, dimana sebagian besar sudah berusia di atas 35
tahun dan bahkan ada yang berusia 40 - 50
tahun merupakan pengalaman lainnya. Ada
yang baru pertama kali mendaki gunung.
Diantara mereka ada yang kondisi fisiknya
bekas mengalami kecelakaan yang cukup berat. Dimana hingga kini bekas kecelakaan
tersebut masih membekas pada dirinya.
“apakah saya sanggup bang?”, begitu
tanyanya. Saya hanya menjawab Insya
Allah. Alhamdulillah ia pun sanggup
menjalaninya dan hingga kini masih terus mendaki gunung. Demikian pula dengan yang lain. Mereka masih terus mendaki gunung.
Komentar
Posting Komentar