Cerita Pendakian Gunung Dari Orang- orang yang Sangat Inspiratif (part.1)

Bacalah cerita ini saat sedang santai supaya khusyu',duduklah,letakkan kopi/teh beserta cemilannya disamping anda.sudah siap? Jika ya,baca cerita ini secara perlahan.jika PUNYA,lebih asik sih bacanya bareng pacar.biar lebih romantis gitu.okelah,langsung aja.cekitdot!



Kisah pendakian gunung berikut ini semoga

bisa menjadi inspirasi bagi para pendaki

dan penggiat alam bebas dimanapun

berada. Bahwa tidak ada hal yang mustahil

yang bisa kita lakukan selama hal tersebut

adalah nyata dan sebanding dengan kemampuan kita. Intinya, jangan menyerah

terhadap satu hal yang terkadang

membuat kita lemah. Pasti bisa! - Masa kecil lelaki ini pernah terserang penyakit asma. Bahkan sejenis penyakit yang menyerang jaringan otak pernah

dialaminya. Hingga suatu saat perkenalan

dirinya dengan kegiatan alam bebas

seperti mendaki gunung merubah

segalanya. Sejak itu semua penyakitnya

hilang sama sekali dan dirinyapun nyaris tidak pernah meminum obat - obatan kimia

seperti obat sakit kepala, flu dan lain - lain

yang biasa di jual bebas. Apa yang di

dapatnya dari alam telah menjadi obat bagi

dirinya. Hingga kini ia pun masih aktif

melakukan pendakian.



- Seorang wanita berpenyakit asma dikucilkan dan dianggap lemah oleh

lingkungannya. Namun, suatu saat kakak

saya mendampinginya mendaki gunung

bersama - sama. Tekad serta kekuatan

yang ada pada dirinya membawanya

hingga ke Puncak Gunung Ciremai. Begitu tiba kembali di bawah, orang tuanya

seakan hampir tidak percaya kalau

putrinya bisa mendaki gunung. Ibunya pun

menangis. Kini lingkungannya tidak lagi

meremehkan dirinya. Ia pun tumbuh

menjadi seorang wanita yang lebih percaya diri. - Lelaki berusia lebih 40 tahun ini mempunyai kelainan pada klep jantungnya.

Tekadnya untuk mendaki Gunung Rinjani tidak terhalangi oleh penyakitnya ini. Ia

yakin dengan apa yang ada pada dirinya.

Kami mendaki bersama - sama sesuai

dengan kemampuan kondisi fisik yang ada.

Perlahan namun pasti kami terus mendaki menambah ketinggian. Saat harus bangun dinihari untuk

melanjutkan pendakian menuju Puncak Rinjani pun tetap dijalaninya. Selangkah demi selangkah ia terus mendaki. Walaupun

sebentar - sebentar harus berhenti. Hanya

sebuah kata - kata penyemangat yang

selalu mengiringinya “ayo bang...Insya

Allah abang pasti bisa...yang penting

sesuaikan dengan kemampuan abang...kami yang akan ikutin langkah abang”. Hingga saat tiba di gigiran kawah Gunung Rinjani, dimana dirinya bisa dikatakan sudah tidak jauh lagi untuk menggapai

puncak, tiba - tiba ada teriakan meminta

pertolongan dari atas. Seorang anak

perempuan terkena Hipotermia. Dengan legowo ia mengatakan, agar saya lebih

dulu menolong anak itu. Sedangkan ia rela

untuk menunda dirinya untuk ke puncak.

Saat saya tinggalkan ia ditemani seorang

teman yang sudah turun dari puncak. Alhamdulillah semuanya berjalan baik. Wanita yang hipotermia dapat tertolong. Demikian pula abang dapat kembali turun

ke pelawangan di dampingi teman - teman yang lain. Perlengkapan oksigen yang kami

bawa hanya terpakai sebagian. Paling tidak

ini menjadi persiapan kami untuk

menghadapi kondisi yang mungkin buruk

dan alhamdulillah tidak sampai terjadi. - Mendaki gunung menggapai tujuh puncak Merbabu bersama beberapa wanita, dimana sebagian besar sudah berusia di atas 35

tahun dan bahkan ada yang berusia 40 - 50

tahun merupakan pengalaman lainnya. Ada

yang baru pertama kali mendaki gunung.

Diantara mereka ada yang kondisi fisiknya

bekas mengalami kecelakaan yang cukup berat. Dimana hingga kini bekas kecelakaan

tersebut masih membekas pada dirinya.

“apakah saya sanggup bang?”, begitu

tanyanya. Saya hanya menjawab Insya

Allah. Alhamdulillah ia pun sanggup

menjalaninya dan hingga kini masih terus mendaki gunung. Demikian pula dengan yang lain. Mereka masih terus mendaki gunung.

Komentar