Cerita Pendakian Gunung Dari Orang-orang yang Sangat Inspiratif (part.2)

- “Saya ingin membawa anak saya yang berusia 9 tahun mendaki Gunung Salak”, demikian ucapnya. Bersama dengan teman
- teman lainnya kami mendaki bersama.
Setelah melalui perjalanan yang cukup
melelahkan hingga hujan, kami akhirnya
tiba di Puncak Salak 1 saat gelap. Sekali lagi usia teman - teman yang bisa dikatakan
rata - rata sudah berusia di atas 35 tahun
masih menunjukkan ketangguhannya.
Kekompakkan serta kerjasama tim yang
mereka tunjukkan adalah kunci
keberhasilan pendakian ini. - Belum genap sebulan, sang bunda pun kembali mengajak anaknya yang berusia 9
tahun mendaki Gunung Semeru. Semangat sang bunda beserta tekad sang anak
dengan support teman - teman
seperjalanan membuat pendakian menuju
Puncak Mahameru pun tercapai. Nampak pancaran mata bahagia terlihat dari sang
bunda. Senyum sang anak di bawah
bendera merah putih di Puncak Mahameru begitu membanggakan dirinya. Sang bunda
percaya...anaknya nanti akan tumbuh
menjadi orang yang kuat, tegar, kreatif
dan mandiri. - Di saat lain seorang wanita pun tidak bisa berkata - kata saat dirinya akhirnya tiba di Puncak Mahameru. Walaupun harus terus berjuang keras menerjang pasir...ia terus
mendaki. Semangat sang anak kecil usia 9
tahun yang menjadi teman setimnya
menjadi salah satu pendorongnya. Ia
melihat sang anak telah jauh berada di atas
dirinya. Tekad dan semangat tidak pantang
menyerah terus memacunya. Hingga ia pun
tiba di Puncak Mahameru. Air mata bahagia
pun akhirnya keluar. Hanya binar matanya
yang bisa bercerita kalau dirinya begitu
bahagia dan hampir tidak percaya kalau kini dirinya benar - benar telah berada di
dataran tertinggi Pulau Jawa. Ya...impiannya selama 10 tahun akhirnya
dapat tercapai. Ia pun mengatakan jika
impian dan keyakinan jika disertai dengan
doa dan usaha keras bukanlah angan -
angan. - Lain halnya dengan wanita satunya lagi. Pada saat harus menerjang pasir menuju
Puncak Mahameru, ia sempat berkata
“sanggup gak ya...”. Teman lainnya
dengan tanggap mensupport dan
meyakinkannya bahwa dirinya Isnya Allah
sanggup. Perlahan namun pasti dirinya terus mendaki dan kakinya pun menapak Puncak Mahameru. Walau sebelumnya ia sempat terkesima
begitu melihat punggungan pasir Puncak
Mahameru dari Kalimati. Baginya gunung ini besar dan terlihat curam serta berpasir
hingga sempat memunculkan keraguan
pada dirinya. Namun, sekali lagi kekuatan
yang ada pada diri sendiri diiringi doa serta
kerjasama dan kekompakkan tim membuat
semuanya berjalan dengan baik. - Terkena badai hampir dua hari saat mendaki Gunung Sumbing membuat pendakian terasa lebih berat. Namun,
pelajaran - pelajaran dari setiap pendakian
yang dijalani sebelumnya membuat mereka
lebih aware satu sama lain. Wanita - wanita ini begitu cepat dan tanggap saat salah
seorang teman prianya mengalami
kelelahan. Mereka sigap saat membangun tenda,
walaupun saat itu angin disertai hujan
bertiup kencang. Hingga keesokan harinya
saat cuaca sedikit berkurang hujannya,
mereka segera melanjutkan pendakian
menuju puncak dan kembali turun secepatnya. Karena cuaca cepat sekali
berubah dimana hujan dan angin kencang
kembali datang. Mengalami badai hampir 2 hari tidak menciutkan nyali mereka. Dua hari setelah
badai, saya bersama dua wanita sahabat
saya tiba di Bali. Malam itu langit di atas Pulau Bali dari Pantai Sanur terlihat penuh bintang. Padahal perjalanan kami dari Jawa
Tengah ke hingga ke ujung Jawa Timur,
nyaris tanpa sinar Matahari. Sepanjang
perjalanan semuanya terlihat mendung dan
kelabu. Mengetahui cuaca yang cukup cerah malam
itu, kami bertiga pun memutuskan untuk
mendaki Gunung Agung esok harinya. Malam itu kami segera semua perlengkapan
pendakian. Esok paginya bersama seorang
teman dari Universitas Udayana, kami
menuju Pura Agung Besakih, entri point pendakian ini. Oleh koordinator guide dan
polisi Besakih, kami ditawarkan mendaki
melalui Dusun Junggur, Besakih. Jalur
pendakian yang resmi dibuka 29 Desember
2010 silam. Setelah mendapatkan informasi mengenai
jalur ini, kami pun menyetujuinya. Benar,
seperti dugaan kami, jalur ini bisa
dikatakan 90 persen mempunyai sudut
kemiringan antara 40 - 60 derajat. Namun,
jalurnya masih sangat baik dan hutannya pun masih asri. Sampai-sampai kami begitu
senangnya melalui jalur ini. Walaupun
cukup banyak pacet, namun pendakian melalui trek punggungan ini
menyenangkan. Jalurnya benar - benar
masih asri. Malam itu kami benar - benar
bersyukur, karena cuaca cukup cerah.
Hingga kami pun tiba di camp saat hampir
tengah malam atau 7 jam perjalanan. Hanya ada sedikit tempat datar yang
dapat menampung sebuah tenda kami. Setelah esok pagi harinya melanjutkan
pendakian hingga tiba Puncak Gunung Agung, sekitar pukul 12 siang, kami pun turun kembali menuju Basecamp di Dusun Junggur. Saat itu hujan dan angin sudah
mulai datang. Hingga akhirnya kami pun
turun dalam kondisi badai. Di lembah kanan
dan kiri kami terdengar suara angin
kencang berputar - putar. Hujan yang turun terasa seperti sebesar - besar jari kelingking. Jalur yang curam pun
kini berubah menjadi aliran sungai lumpur.
Suara geluduk sesekali bersahut - sahutan.
Beberapa kali kami harus terpeleset dan
berjibaku dengan lumpur. Hingga akhirnya
memasuki malam. Hujan badai tidak ada tanda - tanda segera berhenti. Angin kencang yang bertiup membuat
tubuh terasa semakin dingin. Jalur pendakian terasa semakin berat dan melelahkan kami. Untuk saling bantu dan
jaga, kami pun sesekali saling berpegangan
tangan. Hingga akhirnya setelah 12 jam
berjalan turun, kami pun tiba kembali di Basecamp, Dusun Junggur, Besakih. Semangat dan daya juang kedua wanita
yang saya kenal ini cukup tangguh. Dimana
yang satu baru saja melewati operasi.
Sedangkan satunya lagi pernah mengalami
kecelakaan berat....dimana akibat dari
kecelekaan tersebut masih membekas dan dibawanya hingga kini. Semua itu tidak
mematahkan semangat mereka. Mereka
berdua mengatakan bahwa untuk mereka mendaki gunung karena memang mereka senang. Sehingga dalam setiap pendakian,
mereka selalu dari hati. Apapun yang
dialami dalam pendakian, itulah arti petualangan. Semuanya harus dihadapi. Usia teman - teman dalam kisah - kisah
nyata pendakian di atas bisa dibilang
sebagian besar sudah tidak muda lagi.
Namun, semangat dan tekad yang ada
pada dirinya masing - masing serta
persiapan yang matang selalu coba terus mereka utamakan. Dalam artian mereka
selau terus berusaha lebih baik dan lebih
baik lagi dalam pendakian - pendakian
selanjutnya. “Sudah banyak wanita - wanita di dunia
dan bahkan di Indonesia membuktikan
ketangguhannya mendaki gunung serta
mengukir prestasi dalam dunia pendakian
gunung sebagaimana halnya para pria”.
Beberapa diantaranya melakukan pendakian gunung untuk berbagai
kegiatan sosial. Pendakian 10 Wanita usia diatas 40 tahun
dalam rangka penggalangan dana untuk Yayasan Lupus Indonesia. Ekspedisi ini di mulai dari gunung di Kalapattar, Himalaya ( 2006 ); Kilimanjaro, Tanzania ( 2009 ). Pencapaian pertama di Ekuador terjadi
pada 25 Januari 2011; Gunung Cotopaxi pada 28 Januari 2011. Inilah salah satu bentuk kepedulian
dedikasi mereka akan pentingnya
mengetahui akan bahaya penyakit Lupus.
Dimana dalam sebuah suvey terindikasi
bahwa 9 dari 10 orang dengan Lupus ( ODAPUS ) adalah wanita dan terdeteksi
lebih banyak menyerang pada masa
produktif ( usia 15 - 44 ). Jumlah
penderitanya diyakini lebih besar dari
yang berhasil terdeteksi, sementara
pemahaman mengenai penyakit ini masih sangat minim. Tidak terkecuali tentunya para pria.
Banyak ekspedisi yang telah dilakukan para pendaki pria. Baik itu yang sifatnya
prestasi maupun untuk kegiatan sosial.
Baik itu di dunia maupun di Indonesia
sendiri. Lepas dari itu semua. Baik lelaki atau
wanita. Tua maupun muda. Dalam kegiatan
di alam bebas semuanya menyatu. Tidak ada perbedaan satu sama lain. Satu sama
lain semuanya seperti keluarga. Seperti kata - kata seorang teman baik
saya, sebut saja namanya -Java Rhino- yang kini tinggal di Kanada: "mendaki gunung untuk persaudaraan".

Komentar